Thursday, 30 August 2018

Perusahaan Sukanto Tanoto Mampu Mengembangkan Pengusaha Lokal

Image Source: Aprilasia.com


Sebagai pengusaha, Sukanto Tanoto memiliki prinsip yang patut ditiru. Ia ingin perusahaannya bisa berkembang bersama pihak lain. Oleh sebab itu, pendiri Royal Golden Eagle (RGE) selalu mendorong kemitraan dengan pihak-pihak di sekitar perusahaan.
            RGE yang didirikannya memang sudah menjadi korporasi kelas internasional. Namun, Sukanto Tanoto tidak lupa terhadap akarnya. Ketika pertama kali mendirikannya pada 1967, RGE hanya perusahaan skala lokal, sehingga ia ingin membantu pebisnis kecil.
            Kerja keras dan keseriusan dalam mengelola perusahaan membuat RGE tumbuh. RGE kini berkembang menjadi korporasi beraset 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan karyawan sekitar 60 ribu orang.
            Meski sudah menjadi korporasi, RGE tidak melupakan para pebisnis lokal. Sebisa mungkin mereka membuka pintu untuk menjalin kemitraan. Hal itu bertujuan supaya para pengusaha tersebut mampu mengembangkan bisnisnya.
 Hal itu sengaja ditegaskan oleh Sukanto Tanoto dalam arahan kerja. Ini diindahkan oleh salah satu anak perusahaan RGE, Grup APRIL. Perusahaan yang bergerak di industri pulp dan kertas ini mampu mengembangkan banyak pengusaha lokal.
APRIL didirikan oleh Sukanto Tanoto pada 1993 di Pangkalan Kerinci, Riau. Mereka kini menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kapasitas produksi terpasang per tahunnya cukup tinggi. Pulp yang dibuat mencapai 2,8 juta ton dan ditambah dengan kertas sebesar 1,15 juta ton.
Perusahaan Sukanto Tanoto ini menjalin kemitraan dengan pebisnis lokal dengan cara unik. Mereka sengaja menjadikannya sebagai sebagai bagian dari operasional keseharian perusahaan.
APRIL membuka pintu kemitraan bagi pengusaha lokal untuk mendukung operasionalnya. Pebisnis lokal diajak sebagai mitra. Setelah itu, mereka dilatih untuk membuat produk atau mengembangkan layanan yang diperlukan oleh perusahaan.
Perlu diketahui, dalam menjalankan proses produksi pulp dan kertas, banyak pekerjaan lain yang dilakukan oleh APRIL. Mereka juga harus mempersiapkan bibit tanaman untuk ditanam di perkebunan. Mereka mesti memikirkan pula bagaimana mempersiapkan karyawan datang tepat waktu.
Hal-hal seperti itu akhirnya dibuka sebagai pintu kerja sama dengan pengusaha lokal. APRIL mengundang pebisnis di sekitar area operasinya untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Langkah ini terbukti efektif. Perusahaan Sukanto Tanoto berhasil mengubah kehidupan banyak pihak khususnya para pengusaha lokal. Berkat pendampingan dari kemitraan yang dilakukan, para pebisnis itu sanggup memperbesar usahanya. Pada akhirnya, mereka juga mampu membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Salah satu contohnya dirasakan oleh Jufri yang berasal dari Pangkalan Kerinci. Ia mampu mendirikan perusahaan yang memproduksi pupuk untuk industri pertanian dari dengan bahan dasar sekam. Berkat itu, Jufri sanggup mempekerjakan sekitar 80 orang karyawan.
Awal mulanya adalah kemitraan Jufri dengan APRIL. Pada tahun 2000, ia menjadi mitra binaan PT Riau Andalan Pulp & Paper (unit operasional APRIL, Red.). Hal itu membuka kesempatan untuk menyuplai kebutuhan operasional APRIL. Saat itu, Jufri akhirnya berkesempatan merawat kendaraan operasional APRIL. Namun, seiring pendampingan perusahaan, ia mampu memperlebar bidang usahanya. Jufri sempat menyediakan tenaga kerja untuk APRIL hingga kini memproduksi arang sekam.
Patut disadari, arang sekam dibutuhkan oleh APRIL sebagai bagian dari proses pembibitan akasia. Jufri mengolahnya dengan cara menyangrai arang sekam dengan sebuah penggorengan besar. Setelah itu, Jufri menyuplainya ke RAPP karena sudah mengantongi kontrak kerja sebagai mitra.
"RAPP memberi saya banyak bantuan untuk bisnis saya. Jadi, manfaat yang saya dapatkan bukan hanya uang, tetapi juga program pelatihan yang bisa membantu mengembangkan bisnis saya," kata Jufri.

BEBERAPA CONTOH LAIN


Image Source: Aprildialog.com

Jufri bukan satu-satunya pebisnis yang mendapat manfaat dari kemitraan dengan APRIL. Banyak pihak yang merasakan dukungan serupa dan bisa berkembang menjadi lebih baik. Contohnya adalah Tengku Effendi yang kehidupannya berubah drastis berkat perusahaan Sukanto Tanoto tersebut.
            Pria asal Desa Lubuk Bungo, Provinsi Riau ini mulanya sering bekerja sebagai penebang pohon ilegal di hutan. Ia membabat pohon secara liar lalu menjual hasilnya ke penadah. Namun, setelah menjadi mitra binaan RAPP pada 2006, Tengku mampu meninggalkan pekerjaan untuk menjadi pengusaha jasa transportasi.
            Ketika itu, sebagai mitra binaan, Tengku mendapat kesempatan menjalankan bisnis transportasi. Ia mengangkut para karyawan RAPP untuk pulang dan pergi kerja. Dengan bimbingan RAPP, Tengku mampu mengelolanya dengan baik. Akibatnya bisnis terus membesar hingga menjadi penyedia jasa transportasi umum.
            Bukan hanya itu, PT Idhal Bersaudara yang didirikannya juga berbisnis pupuk. Mereka menyuplai pupuk untuk perkebunan APRIL.
            “Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah apa yang biasa saya kerjakan dengan menjalankan sebuah usaha jasa transportasi. Namun, program ini telah mengajarkan saya banyak hal mengenai bagaimana menjadi seorang pengusaha”, ujar Tengku.
            Lain lagi dengan kisah Husni Thamrin. Pria asal Riau ini beralih profesi dari pengangkut sampah menjadi pebisnis persewaan alat berat dengan aset mencapai Rp100 miliar.
            Perubahan hidup Husni dimulai dengan keputusan bergabung sebagai mitra binaan RAPP. Dengan itu, ia mampu bekerja mengambil sampah di perusahaan dan perumahan karyawan RAPP.
            Namun, seiring waktu, bisnis Husni terus berkembang. Hingga akhirnya ia memiliki usaha persewaan alat berat dengan bendera PT Nilo Engineering. Ia memiliki 30 unit alat berat dan 25 truk yang semuanya disewakan ke RAPP.
            Kesuksesan ini diakui oleh Husni tidak lepas dari dukungan APRIL. Perusahaan Sukanto Tanoto ini membimbing dan membuka kesempatan berbisnis.
            “Saya tidak memiliki latar belakang sebagai pengusaha. Usaha pertama saya adalah mengemudikan truk sampah ayah saya. Saya secara bertahap menjadi mengerti tentang bisnis ini, saya menyadari bahwa terdapat kesempatan bagi saya untuk mengembangkannya. Saya berterima kasih kepada program ini yang telah membina banyak pengusaha lokal, termasuk saya,” ungkap Husni.
            Kisah Husni mirip dengan perjalanan hidup Sulaiman. Pria asal Pangkalan Kerinci ini mampu berkembang menjadi pengusaha cocopeat. Semua berkat dukungan APRIL.
            Mereka sengaja membuka kesempatan bagi pebisnis lokal untuk menyuplai cocopeat yang dibutuhkan sebagai media tanam bibit akasia. Sebagai mitra binaan, Sulaiman bisa melakukannya.
            Kini, bersama PT Rifky Sanjaya Pratama, ia berhasil menyuplai cocopeat ke tujuh pusat pembibitan RAPP. Per bulan, Sulaiman sanggup memasok 600 ton cocopeat. Ini peningkatan drastis dari sebelumnya hanya 30 ton.
            Keberhasilan itu membuat Sulaiman sanggup membuka lapangan kerja untuk 40 orang. “Salah satu pekerja saya dulunya bekerja serabutan membantu ayahnya sebagai nelayan, dan pendapatan mereka paling banyak hanya 1 juta rupiah per bulan. Dengan bekerja di sini, mereka memperoleh pemasukan yang lebih besar, dan bahkan beberapa di antaranya mendapatkan 4 juta rupiah per bulan,” ujar Sulaiman.
            Kisah Jufri, Husni, dan Sulaiman hanya beberapa contoh. Banyak pengusaha lain yang merasakan perkembangan berkat dukungan APRIL. Mereka mencatat hingga 2016 sudah membantu 190 Usaha Kecil Menengah. Berkat itu, ratusan lapangan pekerjaan telah dibuka.
            Dengan ini, APRIL memang menjalankan arahan Sukanto Tanoto. Ia memang berharap perusahaannya mampu memberi manfaat kepada pihak lain. Semua harus memberi kebaikan kepada masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), dan perusahaan (Company).



1 comment: